Friday, December 1, 2017

Teori yang menggoyang budaya didik anak

Teori yang menggoyang budaya didik anak

Banyak teori-teori Barat... yang didoktrinkan agar dipercaya..
masalah mentalitas anak dan keluarga tidak akan tercerabut selagi orangtua tidak putus asa terus berusaha mendidik anaknya. "Edialnya" perlu kuantitas waktu dan kualitas didikan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Namun, setiap orang ada zamannya, setiap zaman ada orangnya. Setiap orang memiliki kepada, namun isinya berbeda-beda. Masing-masing pribadi mempunyai visi, misi, problem yang bermacam-macam. Sehingga mana yang harus diprioritaskan? Kuantitas? ataukah Kualitas?

Berapa banyak orang yang kuantitas sholatnya tinggi, tetapi efek kualitas sholat bagi diri dan sosialnya rendah. Berapa banyak manusia yang kuantitas pertemuan dengan istri dan anak hampir 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 30 hari dalam sebulan, dampaknya, timbul kebosanan, kejenuhan dalam beruswah hasanah. Orangtua seolah kehabisan ide memilih dan memilah tontona dan tuntunan bagi anak. Tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Maka asumsi saya, belajarlah untuk menciptakan kuantitas minimum, akan tetapi kualitas maksimum.

Satu lagi, Islam memiliki teori yang tidak terbantahkan hingga kapanpun yakni DOA dan BAROKAH, walaupun pemikir Barat tak henti-hentinya memerangi praktik teori Islam tersebut. Selama orangtua selalu berusaha memberi teladan yang lebih baik kepada anaknya baik secara moral maupun sosial maka berkah dari Allah akan diperoleh si anak. Serta di kesenyapan malam dan di kejauhan orangtua terus mendoakannya sehingga tiada alasan Allah untuk menolak doa orangtua kepada anaknya.

#rahmat2017